Mendidik Anak
- Keadaan Anak-Anak Zaman Ini
- Kenyataan di masyarakat:
- Pemberontakan, anarkisme, kerusuhan
- Komunikasi yang terputus dengan orang tua
- Perkelahian antar pelajar, demonstrasi
- Obat-obatan dan seks/video porno
- 2 Timotius 3:2-5
- Maleakhi 4:5-6
- Maleakhi 4:5-6: Hati orang tua tidak pada anaknya lagi.
- Hakim-Hakim 11:1-3: Penolakan dari saudara dan orang tua ... terlibat perampokan dan lingkungan (Yefta).
- 2 Samuel 13-17: Absalom menjadi pemberontak karena kekecewaan, karena ketidakadilan, dan sikap tidak tegas ayahnya.
- Kejadian 37:2-4: Pilih kasih orang tua:
- Yusuf menjadi sombong dan suka menjelekkan saudaranya untuk mencari pujian orang tua.
- Saudaranya menjadi jahat dan benci kepada Yusuf.
- 1 Samuel 7:15-17: Kesibukan orang tua, tidak ada waktu.
- 1 Samuel 8:1-3: Anak, mereka hidup menurut jalannya sendiri-sendiri.
- 1 Samuel 2:12, 29: Memanjakan, tidak menghajar, tidak mendidik, dan tidak memberikan teladan (Eli sendiri menggemukkan diri).
- Ayub 39:16-20: Mendidik terlalu keras dan tidak dengan hikmat Allah.
- Tidak Adil: dalam menegor, dalam menghukum, dalam membelikan mainan, baju, sepatu, dalam memberi tugas-tugas rumah. Tidak konsisten dalam aturan dan hukuman di rumah.
- Tidak ada waktu untuk memuji anak, untuk memperhatikan hasil karyanya, bakatnya, penampilan anak, untuk mendengarkan anak, untuk bermain/bersama dengan anak, untuk mengatakan "aku sayang kamu", untuk mengucapkan "terima kasih", untuk menjamah, memeluk anak (tetapi orang tua selalu ada waktu untuk pekerjaan, "pelayanan", hobi, surat kabar dan majalah, tv, dll.).
- Tidak menghargai anak sebagai pribadi
- Ingkar janji
- Lebih menjaga nama/martabat daripada mengasihi pribadi anak.
- Berkata "tidak" kepada anak tanpa memberi alasan, selalu berkata "pokoknya".
- Memuji/membanding-bandingkan dengan anak lain dengan berlebihan.
- Menganggap dan memperlakukan anak sebagai "anak kecil" terus.
- Menganggap lucu fisik dan penampilan anak.
- Menegor di depan orang lain/mempermalukan membentak, menghukum ketika anak sudah terhukum dengan rasa salahnya.
- Tidak menghargai usul, pendapat anak.
- Mengungkit kesalahan yang dulu untuk memojokkan kesalahan saat ini.
- Menjelekkan istri/suami kepada anak.
- Pencegahan
- Aturan: mendidik anak supaya tahu aturan, sopan santun, apa yang baik dan yang tidak baik, norma (Amsal 1:8, Ulangan 11:18-21,Ulangan 4:9, Efesus 6:4)
- Hukuman: menanamkan dengan lebih kuat suatu aturan dan mendidik anak untuk punya rasa tanggung jawab, jiwa satria (Amsal 13:24, Amsal 15:10, dan Amsal 19:8).
- Hadiah: membalut hati yang luka, dengan kasih menanamkan aturan dengan kesan untuk kebaikan, memotivasi untuk mendapatkan apresiasi diri/pengakuan/penerimaan (Kolose 3:21)
- Penyelamatan
- Pemulihan hubungan
- Hakim-Hakim 11:5, 11, 29: ...tua-tua menjemput Yefta (Roma 12:18)
- Lukas 9:48: ... menyambut anak sebagai pribadi Pertobatan dan Pelepasan (pada kasus khusus anak harus dilayani (Markus 10:13-16))
- Penggembalaan Teladan
- Yohanes 10:1-5, 11-15: suara kita didengar, ada wibawa, "mengenal" domba-domba sesuai namanya, menuntun, berjalan di depan/teladan, dan rela berkorban bagi domba-dombanya.
- Ulangan 11:18-21: orang tua harus memberi makan rohani terus menerus (orang tua harus menjadi imam bagi anaknya).
Mendidik di dalam Tuhan. Mendidik melibatkan 3 unsur, yaitu: aturan, hukuman, hadiah.
Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus (dan kita) "Apa engkau mengasihi Aku?", dan jika kita menjawab "Ya, Tuhan...", Tuhan berkata "Gembalakanlah domba-dombaKu" (termasuk anak-anak kita). Tuhan berkata lagi dalam nats yang lain, "Kasihilah sesamamu (dan anak-anak kita) seperti Aku mengasihi kamu", dan juga perintah-Nya "Kasihilah sesamamu manusia (juga anak anak kita) seperti kamu mengasihi dirimu sendiri".
Pendidikan Anak dalam Keluarga
Max Jukes tinggal di New York. Dia tidak percaya kepada Yesus Kristus dan tidak mengizinkan anak-anaknya pergi ke gereja, meskipun mereka menginginkannya. Max Jukes memiliki 1026 keturunan. Sebanyak 130 orang di antaranya dipenjarakan pada usia rata-rata 13 tahun, 190 orang menjadi pelacur, 680 orang pecandu alkohol, dan 150 orang jahat. Keluarga Jukes, telah merugikan pemerintah Amerika Serikat lebih dari setengah juta dollar untuk merehabilitasi mereka. Artinya, mereka bukan saja tidak memberikan kontribusi apa-apa kepada masyarakat namun malah merugikan.
Pada saat yang sama, hiduplah keluarga Jonathan Edwards yang juga tinggal di New York. Dia mengasihi Tuhan dan mengantar anak-anaknya ke gereja setiap minggu. Jonathan Edwards memiliki 1400 keturunan. Sebanyak 65 orang menjadi profesor, 13 orang menjadi rektor universitas, 100 orang menjadi pengacara, 30 orang menjadi hakim, 75 orang menjadi pengarang buku terlaris, 5 orang menjadi anggota kongres Amerika Serikat, 2 orang menjadi senat, dan 1 orang menjadi wakil presiden Amerika Serikat. Keluarga Edwards tidak pernah membebani negara satu sen pun, tapi justru memberikan kontribusi yang besar untuk masyarakat.
Keluarga merupakan satu-satunya tempat di mana orang tua memegang tanggung jawab untuk mempersiapkan anak-anaknya untuk diajar, disiplin, dan pada akhirnya mereka di lepas untuk dipersatukan dengan pasangannya. Dari sini kita melihat betapa pentingnya membangun sebuah keluarga sesuai dengan firman Tuhan. Ada empat hal yang harus dibangun dalam suatu keluarga.
1. Identitas
Keluarga merupakan tempat pertama di mana seorang anak belajar untuk mengenal citra dirinya di hadapan Tuhan. Ketika keluarga hancur, maka identitas dan jati diri anak akan hancur, sehingga timbul rasa minder, sakit hati, kepahitan, dan lain sebagainya.
2. Disiplin
Disiplin berbicara mengenai hak untuk mendidik anak-anak. Keluarga merupakan tempat pertama seseorang belajar mengenai sistem nilai -- apa yang baik dan buruk, terutama dalam hal kasih dan membangun hubungan dengan orang lain.
3. Kasih Tanpa Syarat
Keluarga merupakan tempat pertama kita mengalami kasih dan penerimaan. Di sini kita belajar untuk saling membangun, mendidik, bahkan mengasah satu dengan yang lainnya. Selalu ada pengampunan dan penerimaan -- kasih tanpa syarat.
4. Keintiman
Ketika anak tumbuh besar dalam sebuah lingkungan yang memiliki kasih tanpa syarat, dia tidak akan mengalami kesulitan untuk mengalami keintiman dengan Tuhan sebagai Bapa di Surga. Sebaliknya, jika seseorang mengalami masalah dengan keintiman di dalam keluarganya, dia tidak hanya kesulitan mengenal kasih Bapa, tetapi juga dengan pasangan yang (akan) dinikahinya.
Menolong Anak Bertumbuh dalam Damai Sejahtera
Tema tulisan ini saya ambil dari kata-kata seorang gubernur dalam menanggapi peristiwa pembunuhan atas seorang gadis kecil di kotanya. "Pelakunya sudah tertangkap dan kasusnya pun sudah hampir selesai, namun peristiwa ini masih terasa begitu menggemparkan, terutama karena penyebab kematian gadis kecil yang lucu itu adalah penganiayaan yang dilakukan secara keji dan juga proses penangkapan pembunuhnya yang berliku-liku."
Imbauan gubernur itu dimaksudkan agar anak-anak kita yang lucu dapat terhindar dari ketakutan, supaya mereka memiliki masa kanak-kanak yang bahagia dan tumbuh dalam damai sejahtera. Sebab jika anak-anak kita tumbuh dalam lingkungan yang tidak tentram dan tenang, bagaimana keluarga kita dapat bahagia di kemudian hari? Bagaimana masyarakat dapat tentram di kemudian hari?
Saya pribadi berpendapat bahwa lingkungan masyarakat yang baik saja tidak cukup untuk membuat anak-anak dapat tumbuh dengan damai sejahtera. Hati anak dapat penuh dengan damai sejahtera jika didukung juga dengan terciptanya lingkungan keluarga yang baik.
- Menciptakan Keluarga yang RukunJika orang tua sering bertengkar, mustahil rasanya anak dapat merasakan damai sejahtera. Meskipun pertengkaran itu dilakukan tidak di depan anak-anak, dengan perasaan mereka yang masih begitu peka, mereka tetap dapat merasakan ketegangan di antara kedua orang tuanya. Suasana demikian dapat membuat mereka gelisah. Yang terbaik bagi orang tua adalah saling memaafkan, mengubah kebencian menjadi saling mengasihi. Maka seisi keluarga akan berada dalam damai sejahtera.
- Tidak Memanjakan Anak"Wahai engkau tanah, kalau rajamu seorang kanak-kanak, dan pemimpin-pemimpinmu pagi-pagi sudah makan!" (Pengkhotbah 10:16)Bila kita membiarkan anak-anak menjadi raja sejak mereka masih kecil, hal tersebut akan menjadi sebuah malapetaka. Hal ini dapat terjadi karena banyak orang tua yang salah mengartikan maksud dari membiarkan anak tumbuh dalam damai. Mereka mengira bahwa membiarkan anak tumbuh dalam damai sama dengan memanjakan dan menuruti semua permintaan anak. Namun yang terjadi adalah kekacauan. Orang tua akhirnya kehilangan posisinya sebagai orang tua, anak-anaknya menjadi anak yang tidak tahu aturan, kehidupannya berantakan, hati dan jiwanya kacau balau. Mungkinkah ada damai dalam keluarga yang demikian?Sungguh ironis bahwa kasih orang tualah yang mencelakakan anaknya. Anak yang sejak kecil tidak pernah mengenal kata tidak, biasanya setelah dewasa pun akan terus berbuat seenaknya, dan tidak jarang menjadi pembuat onar di lingkungan sekitarnya.Tapi bila sejak kecil anak telah dibiasakan untuk belajar memikul kuk, hasilnya akan sangat baik. Jika mereka berlaku bodoh dan kurang berhikmat, maka saat mereka meminta suatu yang tidak sepantasnya mereka terima karena perbuatan mereka itu, hendaklah orang tua bersikap teguh pada pendiriannya. Setiap kali anak melakukan perbuatan yang salah, hendaklah segera dikoreksi. Hanya dengan demikian anak dapat bertumbuh dalam damai.
- Menghargai Anak"Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: 'Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku....'" (Matius 19:13-14).Mengapa murid-murid memarahi orang-orang itu? Mungkin karena mereka menganggap bahwa anak-anak tidak tahu apa-apa, tidak patut menyusahkan Yesus. Kita pun sering bertindak demikian. Meskipun kadangkala kita mendahulukan anak dengan selalu mengikuti kemauannya, kadangkala kita juga meremehkan mereka, menganggap mereka tidak tahu apa-apa. Padahal sesungguhnya anak memunyai pengamatan yang tajam dan daya tiru yang kuat. Bila kita mengharapkan anak bersikap sopan dan dapat mengekang diri, kita haruslah memberikan contoh terlebih dahulu. Mungkin kita sendiri tidak menyadarinya, tetapi anak-anak sering kali menemukan bahwa ketika orang tua-orang tua mereka bertemu dan saling menyapa, biasanya mereka pasti diabaikan.
Sebab Tuhan Yesus sendiri berkata: "Biarkanlah anak-anak datang kepadaKu", sepatutnya kita juga menyambut dan menghargai mereka. Dengan demikian, anak-anak akan merasakan bahwa keberadaan mereka sangat bernilai, sehingga dapat bertumbuh dalam damai.
Bersyukurlah Atas Anak Anda Setiap Kali Anda Berdoa
Berdoalah untuk putra Anda. Biarkan dia mendengar ucapan syukur Anda kepada Tuhan atas keberadaan mereka. Tidak ada yang dapat menyampaikan rasa kasih yang lebih intim atau mendalam selain ucapan syukur itu. "Tuhan mengasihimu dan aku juga." Itu adalah pemikiran yang bijak untuk disampaikan kepada putra-putri Anda sesering mungkin. Tegaskan kebenaran itu untuk Tuhan dan putra Anda dengan mengatakan:
Terima kasih Tuhan telah mengirimkan Jessica kepada keluarga kami untuk menjadi putri kami. Kami tahu bahwa dia adalah putri-Mu dan putri kami yang berharga.
Terima kasih Tuhan untuk sifat-sifat luar biasa anak Anda.
Bapa surgawi, kami sangat bersyukur Engkau telah memberikan Billy untuk menjadi bagian dari keluarga kami. Setiap hari, kami mengagumi cara-Mu membentuknya.
Bersyukurlah kepada Tuhan atas prestasi-prestasi anak Anda.
Terima kasih Tuhan karena telah membantu Paul mencetak dua gol dalam pertandingan sepak bolanya hari ini. Terima kasih, Engkau memberinya tubuh yang kuat dan energi untuk berlari dan bermain dengan sangat baik.
Bersyukurlah kepada Tuhan atas keberanian tindakan dan moral anak Anda.
Bapa Surgawi, aku bersyukur Engkau menolong Kirsten untuk melakukan apa yang benar hari ini, berkata jujur meskipun itu sulit dilakukan. Terima kasih Engkau memberanikan dirinya untuk tidak berbohong.
Bersyukurlah kepada Tuhan untuk teman-teman, guru-guru, dan anggota keluarga anak Anda.
Terima kasih Bapa Surgawi karena telah memberikan Colton seorang pelatih kasti yang baik dan teman-teman bermain bola. Terima kasih juga karena mengizinkan taman kanak-kanak milik Joe mensponsori tim.
Tuhan, kami bersyukur Bibi Sue bisa mengunjungi kami selama beberapa hari. Kiranya Engkau membuat perjalannya aman dan tolong kami agar kami bisa bersenang-senang dengannya selama dia ada di sini. Kami tahu dia sangat menyayangi kami semua. Tolong kami menunjukkan kepadanya betapa kami sangat menyayanginya. Terima kasih atas Bibi Sue kami.
Bersyukurlah kepada Tuhan yang telah melindungi anak Anda dan memberinya kesehatan.
Bapa, terima kasih telah menjaga Carolina sewaktu dia bermain hari ini. Terima kasih telah memberinya kesehatan. Terima kasih telah membuatnya ingat untuk menggosok gigi tanpa aku ingatkan.
Anda tidak bisa bersama anak Anda selamanya. Tak satu orang tua pun yang tahu berapa hari, bulan, atau tahun lagi dia akan tinggal bersama anaknya. Jagalah agar hati anak Anda tetap terbuka untuk menerima kasih Allah.
Mintalah kepada Tuhan untuk menolong anak Anda dalam masalah dan kebutuhan mereka.
Tuhan Allah, aku mohon kepada-Mu malam ini untuk menolong Tammi agar ia tahu apa yang harus dia lakukan dan apa yang harus dia katakan kepada Brenda, temannya. Buatlah dia berani bicara dan memberi tahu Brenda apa yang ia rasakan atas sikap Brenda yang memberontak terhadap orang tuanya.
Pada waktu Anda berdoa dengan anak Anda, berdoalah agar Tuhan menjadikan Anda orang tua yang penuh kasih.
Bapa Surgawi, terima kasih telah memercayakan Carla menjadi putri kami. Tolonglah aku agar aku bisa menjadi orang tua yang baik untuknya. Bantu aku menemukan cara-cara baru untuk menunjukkan kepadanya betapa aku menyayanginya dan menghargainya.
Terakhir, berikan kesempatan kepada putra-putri Anda untuk berdoa bagi Anda. Saat Anda merasa terpuruk dan menghadapi masalah dengan pekerjaan atau merasa kurang enak badan atau sakit, mintalah agar anak Anda berdoa bagi Anda. Biarkan dia tahu bahwa doanya sangat berarti.
Jam-jam doa Anda dengan anak Anda bisa menjadi momen-momen yang paling hangat yang bisa Anda nikmati bersamanya. Manfaatkan waktu-waktu itu untuk mengungkapkan kasih Anda dan kasih Allah bagi anak Anda. (t/Setya)

Tidak ada komentar:
Write komentar